Sabtu, 31 Oktober 2020

Lupus vulgaris

 Lupus vulgaris


Heris dulunya tampan. Tapi menginjak usia remaja, jerawat mulai tumbuh merajai wajahnya. Dirinya yang percaya diri dan tampan, lambat laun menjadi pemalu dan penyendiri. Dia berusaha untuk tidak keluar rumah.


Seluruh wajah Heris merah dan meradang dengan beberapa titik berisi nanah.


Heris benci pada jerawat yang dikiranya acne vulgaris ini.


Dia melakukan apapun untuk memyembuhkan jerawatnya.


Banyak uang telah di keluarkannya.


Akhirnya herris putus asa, dan akhirnya bunuh diri.


Meski demikian, rohnya tidak tenang juga.


Rohnya terus mengambang di dunia.


Roh nya masih memikirkan jerawatnya.


Keluarganya tahu herris masih ada disekitar mereka, menghantui kamar heris, khususnya cermin di kamar heris.


Mereka sering mendengar orang menangis di kamar heris, ataupun lemari terbuka dan tertutup dengan sendirinya. Namun karena heris adalah keluarga mereka sendiri, mereka tidak takut. Lagipula, menangis di kamar adalag hal biasa di lakukan heris sewaktu hidup.

Selain itu mereka juga merasa bersalah karena tidak menolong heris, sewaktu heris hidup. Mereka pikir kegalauan heris hanya kegalauan normal remaja, dan tidak akan berujung pada bunuh diri.


Mereka juga masih belum ikhlas anak dan saudara mereka pergi, jadi mereka sesungguhnya lega heris masih berada bersama mereka.


Sesekali sang ibu tetap memasakkan makanan kesukaan heris, dan menaruhnya di kamar.


Heris tetapkan akan memainkan sendok dan garpu, ketika ia pikir ibunya telah pergi, berharap iya dapat memakan makanan itu.


Lalu, waktu pun berlalu. Ayah dan ibu heris telah tiada. Tidak seperti heris, jiwa ayah dan ibu heris, tenang di surga.


Kakak heris telah lama pergi merantau keluar negri, diikuti adik heris.


Semenjak menerima beasiswa, kakak dan adik heris, jarang pulang ke rumah.


Tanpa sepengetahuan mereka, adik ayah heris mengambil surat-surat rumah. Berpikir saudara heris tidak akan keberatan dan sulit pulang ke rumah, dia pun menjual rumah tanpa sepengetahuan saudara heris.


Rumah pun dijual ke keluarga dengan anak yang memiliki masalah jerawat yang sama seperti heris.


Tidak seperti heris yang berpikir jerawatnya ada acne vulgaris, si anak pergi ke dokter dan di resepkan anti biotik.

Ternyata jerawat tersebut bukan lah acne vulgaris. Melainkan lupus vulgaris.

Si anak kemudia sembuh dari jerawatnya.


Melihat hal itu, heris menjadi marah. Dia mulai memunculkan keberadaannya.


Tangisan di kamar, pintu lemari yang terbuka. Gelas dan piring yang berjatuhan. Suasana rumah menjadi tidak tentram. Heris bahkan pernah muncul dalam mimpi si anak itu, dalam wujud makhluk yang sangat menyeramkan yang meminta keadilan.


Lalu, keluarga itu menjadi takut dan mencari pertolongan. Banyak yang menasehati agar keluarga itu kelur dari rumah. Namun, mereka pergi menuju ghost hunter. Meski awalnya tidak percaya pada ghost hunter tersebut, mereka tidak punya pilihan.


Mereka pergi ke ghost hunter dan di tipu.


Namun mereka mencoba ghost hunter lainnya, dan bertemu pada seorang ghost hunter yang benar2 para normal, penghubung dua alam.


Para normal ini bisa melihat roh heris.


Dan berkomunikasi dengan heris


Para normal ini lalu menyampaikan bahwa heris adalah hantu yang putus asa karena masalah jerawatnya dan cemburu dengan anak keluarga itu, yang telah sembuh dari jerawatnya.


Tidak perduli dengan masalah heris, si anak pun berteriak, aku tidak perduli, masalah hantunya apa, tapi aku mau dia bapak sibgkirkan dari kamarki sekarang juga.

Memdengar itu hantu heris marah dan kecewa.


Lalu membunuh remaja itu, dengan menjatuhkan balok kayu besar, ketika anak tersebut sedang di gudang. Anak tersenut pun mati seketika.


Akibat hal itu, orang rua heris semakin kuat meminta para normal membersihkan rumah mereka.


Heris yang telah menjadi roh yang jahat pun dintangkap diupacarakan dsb.


Lalu para normal itu berkata pada heris bahwa apa yang dilakukan nya adalah merusak.